BLOG BERPINDAH


kepada pembaca setia blog ini.
Blog ini telah berpindah ke alamat


http://futopsecret.blogspot.com

Selasa, 2 November 2010

Isra’ Mikraj: Rasulullah Ghaib dan Kembali.


Pada tanggal 27 Rejab telah tercatat dalam sejarah perjuangan Baginda Rasulullah SAW suatu peristiwa Maha Ajaib yaitu Isra’ Mikraj. Allah SWT yang merupakan Pencipta Maha Ajaib ini telah berfirman tentangnya:

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya(Rasulullah saw) pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
QS:Al Israa’ ayat 1
Ketika sedang duduk-duduk, jam menunjukkan waktu ba'da magrib, Baginda Nabi Muhammad SAW tiba-tiba hilang. Ghaib. Tidak ada lagi ditempatnya. Tiba-tiba pada waktu sebelum subuh malam yang sama, yakni setelah kurang lebih 10 jam, Baginda Rasulullah SAW kelihatan ada kembali di tempat duduknya itu. Maka orang pun bertanya apa yang telah berlaku? Maka berceritalah Baginda tentang terjadinya Isra’ dan Mikraj.

Iaitu dalam tempoh 10 jam membuat perjalanan dari Mekah ke Baitul Maqdis kemudian ke Langit ke Tujuh ke satu tempat yang malaikat pun tak dapat pergi dan bertemu Allah di Sidratul Muntaha. Allah menghadiahkan sholat 50 waktu sehari semalam. Beberapa kali naik turun untuk memohon hingga menjadi 5 waktu saja sehari semalam. Kemudian sepanjang perjalanan mengalami 1001 peristiwa yang semuanya ajaib. Semuanya bersifat rohiyah. Namun semuanya dilihat dengan mata kepalanya dan secara jaga yakni dengan fisik/badan yang tidak tidur.

Inilah dia mukjizat yang banyak orang tidak percaya tapi lebih banyak manusia yang percaya. Yakni Rasulullah SAW ghaib secara hidup-hidup selama hanya 10 jam dan kembali balik dengan sihat wal afiat.
Mengapa ada yang percaya dan mengapa ada yang tidak percaya? Sebab dengan akal semata-mata hal ini sangat tidak masuk akal. Tetapi orang yang hatinya atau roh itu hidup dan mampu aktif, memang sangat mampu menerima, mempercayai dan meyakini bahkan memperjuangkannya. Demikianlah jauhnya beda orang akal dengan orang roh.

Orang Yahudi dan Wahabi hanya bersandar pada akal. Tapi orang Tuhan dan Nabi mengambil roh sebagai sumber rujukan, sedangkan akal menerima dan memproses informasi roh berdasarkan wahyu. Mana mungkin akal diminta membuat semua jawaban dan keputusan? Akal bukan Tuhan. Akal hanya ciptaan Tuhan. Artinya akal mesti merujuk kepada Tuhan (Wahyu).

Ya, peristiwa Isra’ Mikraj yang Allah taqdirkan kepada kekasihNya telah sangat menantang akal. Kemudian akal menolaknya karena tak mampu untuk melihat sejauh itu. Padahal di sisi Allah dan Rasul, peristiwa itu memang benar-benar terjadi.

Sayidina Abu Bakar As Siddiq, bila ditanya pendiriannya tentang Isra’ Mikraj, langsung saja menjawab: “Kalau Muhammad yang mengatakannya, lebih dari itu pun aku yakin dengannya.”

Demikianlah kelebihan Khalifah Allah yang pertama itu. Tiadalah di dunia ini orang seperti beliau. Padahal ada orang yang kembali kafir (murtad) dengan adanya peristiwa Isra’ Mikraj itu. Ada orang yang bertanya “Mengapa tidak Rasulullah SAW saja yang ghaib untuk kembali memerintah akhir zaman? Apa perlu pemimpin-pemimpin Imam Mahdi dan Putra Bani Tamim yang ghaib dan kembali memerintah Daulah Islamiyah dan imperium Islam?”

Pertanyaan ini serupa dengan pertanyaan: “Mengapa sholat Maghrib 3 rakaat dan Subuh 2 rakaat?” atau bertanya: “Ya Allah, mengapa saya perempuan? kan elok kalau saya dilahirkan sebagai seorang lelaki?”
Sesungguhnya Nabi Muhammad itu adalah cahaya yang diciptakan oleh Allah SWT mendahului segala makhluk lain. Bila cahaya ini dengan kemampuan untuk menjadi ubat bagi segala penyakit dan masalah, menjadi anak kunci bagi semua kejayaan, rahsia untuk menangkis musuh-musuh, yakni rahsia segala rahsia dan ia juga cahaya yang mencahayakan semua hati-hati yang dicahayakan.

Maka barulah Allah ciptakan dua alam yaitu dunia dan akhirat dengan segala isinya. Kedua-duanya sangat memerlukan Nur Muhammad. Tanpa Nur itu alam ini tidak akan ada artinya. Maka berperananlah Nur Muhammad di setiap zaman. Tapi bila tiba zamannya Allah lahirkan dia sebagai manusia selama 63 tahun saja. Jadilah dia seajaib-ajaib manusia. Kemudian Allah wafatkan sedangkan Nabi lain kalau wafat mana mungkin jadi Nabi lagi. Nabi Isa belum mati tapi ghaib, sebab itu dapat berperanan lagi bila turun/zahir nanti.
Tidak halnya dengan Nabi Muhammad SAW. Dia sudah jadi Nabi ketika hidupnya. Tapi Baginda juga dilantik oleh Allah untuk menjadi Nabi sekali lagi kepada Umatnya yang datang sesudah kewafatannya yaitu kita semua. Apakah ini tidak hebat? sudah mati pun dapat menjadi Nabi Rasmi umat akhir zaman? Kita ini mempunyai Nabi. Sepertilah kaum-kaum lain, ada Nabi. Hanya Nabi kita ini sudah wafat. Dia dilantik jadi Nabi baik dalam keadaan hidup atau mati. Sebab peranan Nabi itu bukan dengan fizik/lahiriahnya, tapi rohnya.

Kepemimpinan yang pernah berjaya hanyalah oleh orang-orang roh. Orang yang mewarisi Nur Muhammad yang dilantik Tuhan dan menerima ilmu, pemimpin, rezeki dari Allah. Sekarang Nabi Muhammad SAW dengan gaya wafat sedang menjadi Nabi kepada kita semua. Islam terus bangkit dan akan melonjak ke taraf Daulah Islamiyah dan Empayar Islam sekali lagi. Oleh pemimpinnya Nabi yang Ummy (tidak perlu membaca dan menulis). Hebatnya kepemimpinannya karena mempunyai dua tokoh yang menjadi utusannya ke bumi. Iaitu Imam Mahdi dan Putra Bani Tamim. Tokoh yang hidup bersama Nabinya sebagai roh, tapi dapat juga hidup secara fisik di muka bumi. Nur Muhammad itu mampu melahirkan manusia yang dapat hidup di dua alam, untuk berperanan sebagai wakilnya menyelamatkan bumi dengan Islam
.
Teknologi ini hanya orang Tuhan yang mampu ciptakan. Barat atau Yahudi sedang terseok-seok untuk menghadapi kekuatan yang Nabi Muhammad pamerkan itu. Orang Islam sepatutnya berbangga dan rasa kuat dengannya. Tapi mengapa ya, ada orang Islam yang hasad dengki bila Islam mendapat kemenangan?

Tiada ulasan: