BLOG BERPINDAH


kepada pembaca setia blog ini.
Blog ini telah berpindah ke alamat


http://futopsecret.blogspot.com

Selasa, 23 Ogos 2011

Atlantis dalam Kajian Nahu Saraf

Nama Atlantis menurut pelbagai suku  bangsa disebut sebagai  Tala, Attala, Patala, Talatala, Thule, Tollan, Aztlan, Tluloc, dan lain-lain. Atlantis juga disebut atala.

Setelah terjadi letusan gunug berapi,  Atlantis pulau syurga telah menjadi neraka dan KOSONG dan inilah yang diingat oleh keturunan Atlantis yg melarikan diri ke benua lain 

Jadi apakah ada hubungan antara makna kata atala/atlantis setelah  hancur/kosong dengan makna 'athal pada al-Quran?
 
 
‘ATHAL (Kekosongan)
 
‘Athal adalah bentuk mashdar (noun) dari kata kerja ‘athila – ya‘thalu
 (عَطِلَ – يَعْطَل), tersusun dari huruf-huruf ‘aintha, dan lam yang ertinya  “kosong”, “tiada apa-apa”. 

Makna itu kemudian berkembang menjadi, antara lain: “tak berpenghuni” (rumah) kerana isinya kosong; “terlantar” digunakan untuk binatang gembala yang tidak ada penjaganya; “tidak berair” (sumur); “tidak mengenakan pakaian” (wanita); “cuti” karena sekolah/pejabat  dikosongkan; “menganggur” karena tiada pekerjaan; “tak berguna” karena kosong dari fungsinya; “tunda/tangguh” karena mencari waktu lapang yang lain; “tidak hujan” kerana ada mendung tetapi hujan tidak turun.
 
Kata ‘athal dan pecahannya di dalam al-Quran diulang dua kali, di mana masing-masing dalam bentuk kata kerja lampau muannats, ‘uththilat (عُطِّلَتْ = ditinggalkan) yang terdapat di dalam At-Takwir [8] ayat 4 dan bentuk ism maf’ûl muannats, mu‘aththalah(مُعَطَّلَة = yang dikosongkan, yang ditinggalkan) yang terdapat pada  Al-Hajj ayat 45. 
 
Teks dan terjemahannya seperti berikut: 
 
pertama, wa idza al-‘isyâru ‘uththilat
(وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ )
= dan ketika unta-unta yang bunting ditinggalkan [tidak diperdulikan]
 
kedua, faka’ayyin min qaryatin ahlaknâhâ wa hiya zhâlimatun fahiya khâwiyatun ‘alâ ‘urûsyihâ wa ba‘rin mu‘aththalatin wa qashrin masyîd 
 
 (فَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةً أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِِِيَةٌ عَلَى عُرُوْشِهَا وَبَعْرٍ مَعَطَّلَةٍ وَقَصِرٍ مَشِيْدٍ)
= Berapa kota yang Kami telah binasakan, yang penduduknya dalam keadaan lalim, tembok-tembok kota itu roboh menutupi atap-atapnya, dan (berapa banyak pula) sumur dan istana tinggi yang telah ditinggalkan
 
Ulama berbeza pendapat mengenai makna kata ‘uththilat di dalam At-Takwîr ayat 4.
 
 Imam As-Suyuthi dan Mujahid mengertikannya dengan “ditinggalkan”; Ubay bin Ka‘ab dan Ad-Dhahak mengertikannya dengan “diabaikan”; Ar-Rabi‘ bin Haisam mengertikannya dengan “tidak ada penjaganya” kerana di dalam ayat tersebut kata ‘uththilat dikaitkan dengan unta-unta hamil. Meskipun mereka berbeza dalam memakai kata tersebut, namun maksudnya sama, iaitu ketika unta-unta hamil itu ditinggalkan oleh pemiliknya.

Ayat ini, menurut al-Qurthubi, menggambarkan sebahagian dari situasi di hari kiamat, di mana sekitarnya ada orang yang memiliki unta-unta hamil yang bagi orang-orang Arab merupakan harta yang sangat berharga ketika ayat ini turun, namun kemudian dibiarkan dan tidak dihiraukan lagi kerana sibuk mengurus diri mereka sendiri. 

 Ada yang berpendapat maksud ayat tersebut adalah ketika manusia dibangkitkan dari kubur juga seluruh harta miliknya, termasuk unta-unta yang sedang hamil. Pada saat itu, manusia tidak lagi menghiraukan hartanya itu, termasuk yang unta-unta yang sedang hamil dan wang sangat disayangi ketika di dunia, kerana mengurus dirinya sendiri.

Adapun kata mu‘aththalah di dalam Al-Hajj [ayat 45 berkedudukan sebagai kata sifat dari kata bi‘r (بِعْرٌ = sumur).
  
Tafsirnya diperselisihkan oleh ulama. Ada yang berpendapat ertinya adalah sumur yang ditinggalkan, seperti kata As-Suyuti dan Ad-Dhahak. Ibnu Katsir mengertikannya dengan sumur yang tidak lagi menjadi sumber air minum dan tidak ada lagi orang yang mendatanginya.

Ada juga yang berpendapat, maknanya adalah tidak berair, atau tidak ada pemiliknya karenatelah binasa, atau tidak ada tali dan timbanya. Semua pendapat tersebut mempunyai satu persamaan.. Pada isinya sumur itu tidak lagi digunakan karena kosong airnya, atau ditinggalkan oleh pemiliknya, atau kosong dari tali dan timba. Perbezaan itu terjadi kerana mereka berusaha menyesuaikan makna dasar mu‘aththalah, yaitu “kosong” yang disesuaikan dengan konteks kalimatnya.

  Penggunaan mu‘aththalah di dalam ayat tersebut berkaitan dengan banyaknya umat terdahulu yang dibinasakan Allah dengan menghancurkan kotanya, meruntuhkan istananya, dan mengeringkan sumurnya, karena mereka menzalimi diri mereka sendiri dengan menentang para rasul yang diutus Allah kepada mereka. Ayat ini merupakan penghibur dan pembesar hati Nabi Muhammad Saw. dalam berdakwah, juga bagi umatnya, di mana nabi-nabi terdahulu juga mengalami dan berhadapan dengan umatnya yang menentang ajaran yang mereka bawa, tetapi pada akhirnya para penentang itulah yang binasa.

Tiada ulasan: